PT. Perkebunan Sumatera Utara (PSU) merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara yang didirikan berdasarkan Perda Propinsi Sumatera Utara tahun 1979.
Hingga akhir tahun 2020, PT Perkebunan Sumatera Utara memiliki lahan seluas 14.332,71 hektar dengan luas produksi atau Tanaman Menghasilkan (TM) 9.169,43 hektar. Sedangkan sisanya merupakan lahan pembibitan, replanting, Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan areal tidak bertanam lainnya.
Komoditas yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit antara lain minyak sawit mentah (crude palm oil), inti kernel kelapa sawit (kernel oil) dan tandan buah segar (TBS).
Good Corporate Governance
Dalam rangka mewujudkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) PT Perkebunan Sumatera Utara bertekad melakukan berbagai inovasi dan transformasi sehingga ke depan dapat menghasilkan profit atau keuntungan maksimal.
Sejumlah upaya pun telah dilakukan oleh PT Perkebunan Sumatera Utara. Menurut Direktur Utama, Ghazali Arief, saat ini pihaknya sedang menggelar sejumlah inovasi diberbagai bidang. Seperti misalnya membuat kerjasama operasi, memperbaiki pabrik minyak kelapa sawit, memperbaiki dan menambah unit boiler, dan penggunaan teknologi digital untuk memodernisasi perkebunan kelapa sawit miliknya.
“Dengan mengimplementasikan teknologi digital maka kami bisa meminimalisir peluang terjadinya tindak manipulasi,” kata Ghazali Arief.
Adapun transformasi digital yang diimplementasikan di PT Perkebunan Sumatra Utara antara lain meliputi penggunaan software aplikasi Electronic Plantation Control System (EPCS) di tiga estate dan di dua pabrik pengolahan minyak sawit yang berlokasi di Mandailing Natal, Sumatra Utara.
Kegunaan software aplikasi EPCS antara lain untuk meningkatkan efisiensi proses dan operasional khususnya menyangkut kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak tenaga kerja seperti misalnya pekerjaan rutin di lapangan (infield-activity) antara lain perawatan tanaman, perawatan lahan, kegiatan pemupukan, penyiangan, pemanenan dan pengangkutan buah (TBS) hingga penimbangan dan sortasi.
Menurut Chief Executive Officer (CEO) eKomoditi Indonesia, Ferron Haryanto, aplikasi EPCS pada prinsipnya untuk mengganti proses manual (konvensional) dengan teknologi digital, sehingga mempercepat pengiriman data, menciptakan transparansi, menghindari manipulasi laporan dan menekan biaya operasional.
“Sistem digital dapat menekan dan meminimalisir kecurangan karena terdapat kegiatan kontrol secara digital, sehingga akan tercipta efisiensi biaya dan membantu peningkatan produktifitas industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia,” kata Ferron.
Aplikasi EPCS yang kembangkan oleh eKomoditi Indonesia juga menawarkan solusi pemetaan lahan milik perseoran. Semua aktivitas kegiatan operasional di lapangan dapat direcord hingga ke blok terkecil. Hal ini selain untuk menghindari overlapping pekerjaan sekaligus untuk pemantauan proses bisnis secara keseluruhan melalui aplikasi.
Sementara untuk software aplikasi EPLAS akan diimplementasikan untuk kantor pusat yang berada di Medan.
Sistem ini sangat bermanfaat untuk perhitungan laba rugi usaha perkebunan, menunjang proses perencanaan dan eksekusi program agar berjalan tepat waktu dan sasaran, memberikan informasi yang aktual dan terpercaya sehingga memudahkan manajemen dalam pengambilan keputusan, serta memastikan masing-masing estate berjalan sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Awal bulan ini telah diselenggarakan kick-off meeting dengan melibatkan seluruh key-user dan end-user dari semua lini bisnis. Seremonial ini digelar sebagai tanda dimulainya rangkaian proses implementasi teknologi digital.
Tahap ini sendiri direncanakan akan selesai pada Desember 2021, sehingga ditargetkan pada awal tahun depan semua operasional perkebunan milik PSU sudah menggunakan teknologi digital.
Dukung kami menyajikan berita akurat, terpercaya dan independen. Berkontribusi sekarang melalui link Google berikut ini.